ASTRONOMI

SEMESTER I

Minggu, 10 Juni 2012

Filosofi Al-Fiyyah


Makan Dengan Tangan, Kenapa Tidak?


Dalam nadhom Al-fiyyah ibnu malik nomer 63 pada bab “nakirah dan ma’rifat” disebutkan :
وَ في اخْتيَارلَا يَجئُ المُنْفَصلْ * اذَا تَأَتَّي أَنء يَجئَ المُتّصلْ
Secara normatifitas nahwu, nadhom ini mengandung pemahaman bahwa dalam kondisi ikhtiyar (normal), tidak selayaknya kita memakai dhomir munfasil selama kita masih bisa mendatangkan dhomir muttasil. Jadi, contoh  رايت اياك dalam kondisi normal tidaklah diperkenankan. Karena kita masih bisa mengucapkan رأيتك  dan ini tidak mengurangi nilai substantifnya dalam memberikan sebuah pemahaman. Ini beda halnya dengan contoh اياك نعبد. Pada contoh ini, pemakaian dhomir munfasil tidaklah dapat dipermasalahkan. Karena dalam konteks ini, ada sebuah pemahaman yang ingin dibangun dengan mendahulukan maf’ul yang berupa dhamir. Pendahuluan maf’ul tersebt bertujuan untuk takhsis (pengkhususan). Jadi, yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah hanya kepada Allah-lah kita menyembah.  Dan pada kondisi ini, tidak ada pilihan lain untuk memilih dhomir kecuali harus memakai dhomir munfasil. Dalam nadhom nomer 55 disebutkan :  
وَ ذُوْ اتّصَال منْهُ مَا لَا يُبْتَدَا * وَلَا يَليْ الّا اخْتيَارًا اَبَدًا
“Dhamir muttasil itu selamanya tidak dapat ditaruh di permulaan kalam dan tidak dapat jatuh setelah الَّا "
Pemahaman noramatif nadhom ke-63 tadi bisa kita larikan ke pemahaman filosofis aplikatif dalam kehidupan sehari-hari, yaitu “Dalam kondisi ikhtiyar (tidak dharurat), kita tidak diperkenankan makan dengan sendok selama masih mungkin untuk makan dengan tangan. Jadi, makan dengan sendok itu diperbolehkan selama tidak ada pilihan lain.”
Dalam sebuah hadist disebutkan :
 “ Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam makan dengan menggunakan tiga jari.” (HR. Muslim, HR. Daud).
و الله اعلم بالصواب

Tidak ada komentar:

Posting Komentar